Isu perlindungan kelompok rentan di wilayah pedesaan menjadi tantangan tersendiri bagi aparat penegak hukum, terutama di daerah dengan karakteristik sosial yang kental seperti Bima. Keberadaan Unit PPA (Pelayanan Perempuan dan Anak) di bawah naungan kepolisian setempat kini menjadi tumpuan harapan bagi masyarakat untuk mendapatkan keadilan. Di tengah struktur masyarakat yang masih memegang teguh adat istiadat, upaya untuk memutus rantai diskriminasi dan perlakuan salah terhadap kelompok lemah memerlukan pendekatan yang sangat hati-hati namun tetap tegas secara hukum.
Tugas utama dari satuan khusus di Polres Bima ini adalah memberikan ruang aman bagi para korban untuk bersuara. Sering kali, kasus-kasus yang melibatkan anggota keluarga atau kerabat dekat di lingkungan desa terkendali oleh stigma sosial atau rasa malu yang mendalam. Polisi kini tidak lagi hanya menunggu laporan di kantor, tetapi secara proaktif melakukan sosialisasi hingga ke pelosok-pelosok dusun. Tujuannya adalah untuk memberikan pemahaman bahwa tindakan menyakiti fisik maupun mental bukan lagi urusan privat yang bisa diselesaikan dengan diam, melainkan sebuah pelanggaran hukum serius yang harus ditangani oleh negara.
Fokus utama dalam setiap penanganan perkara adalah bagaimana cara Lindungi korban dari trauma yang berkepanjangan. Personel di unit ini dibekali dengan kemampuan psikologi dasar untuk mendampingi saksi dan korban, terutama anak-anak, agar mereka merasa nyaman saat memberikan keterangan. Proses pemeriksaan dilakukan di ruang khusus yang jauh dari kesan kaku atau menyeramkan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa proses hukum tidak justru menambah beban mental bagi mereka yang sudah mengalami penderitaan akibat tindakan yang tidak bertanggung jawab.
Fenomena Kekerasan di lingkungan domestik sering kali berakar dari kurangnya edukasi dan tekanan ekonomi yang menghimpit. Oleh karena itu, polisi di Bima juga bekerja sama dengan tokoh agama dan lembaga swadaya masyarakat untuk memberikan edukasi mengenai pola asuh dan hubungan keluarga yang sehat. Mereka berusaha mengubah pola pikir masyarakat bahwa ketegasan dalam mendidik anak atau berinteraksi dengan pasangan tidak boleh melewati batas kemanusiaan. Dengan adanya edukasi yang masif, diharapkan angka kejadian dapat ditekan dari level paling dasar, yaitu keluarga di setiap unit rumah tangga.
