Di tanah Bima, Nusa Tenggara Barat, terdapat warisan budaya yang sangat mempesona bernama Tradisi Rimpu Bima, yakni cara kaum perempuan menggunakan kain tenun sebagai penutup kepala dan badan yang sangat anggun. Yang paling unik dari cara ini adalah penggunaannya yang tidak memerlukan jarum peniti atau pengait lainnya, melainkan hanya mengandalkan teknik melipat dan mengikat kain secara tepat di kepala. Rimpu bukan hanya sekadar pakaian, melainkan lambang kehormatan, kesopanan, dan identitas perempuan Bima yang telah dijaga selama turun-temurun, mencerminkan kearifan lokal yang tinggi dalam memadukan kebutuhan berpakaian dengan keindahan estetika tradisional yang sangat menawan.
Penggunaan Tradisi Rimpu Bima dibagi menjadi dua jenis utama, yakni Rimpu Colo dan Rimpu Mpida, yang masing-masing memiliki perbedaan dalam cara pemakaiannya tergantung pada status sosial atau tujuan kegiatan. Rimpu Colo digunakan untuk aktivitas sehari-hari yang lebih santai dengan bagian wajah yang lebih terbuka, sementara Rimpu Mpida digunakan untuk situasi yang lebih formal atau saat keluar rumah dengan menutup wajah lebih rapat. Meskipun terlihat sederhana, dibutuhkan keahlian khusus untuk dapat mengenakan kain dengan rapi sehingga tidak mudah lepas saat beraktivitas. Keahlian ini biasanya diajarkan oleh ibu kepada anak perempuan mereka sejak usia dini sebagai bagian dari pendidikan karakter dan tata krama.
Saat ini, Tradisi Rimpu Bima kembali digiatkan oleh pemerintah daerah dan komunitas lokal melalui berbagai festival budaya untuk memastikan tradisi ini tetap relevan di kalangan remaja modern. Mereka sering mengadakan lomba mengenakan Rimpu dengan berbagai kreasi kain tenun ikat khas Bima yang sangat berwarna dan indah. Ini adalah upaya nyata untuk menjaga agar tradisi ini tidak hilang ditelan zaman dan tetap menjadi kebanggaan bagi masyarakat lokal. Wisatawan yang berkunjung ke Bima pun sering kali diajak untuk belajar mencoba mengenakan Rimpu sebagai bagian dari pengalaman wisata budaya yang sangat berkesan dan memberikan perspektif baru tentang kekayaan wastra kita.
Mari kita terus melestarikan Tradisi Rimpu Bima dengan bangga mengenakannya dalam acara-acara kebudayaan. Jika Anda berada di Bima, jangan ragu untuk bertanya dan belajar cara mengenakan kain tenun secara tradisional kepada para perajin lokal yang sangat terbuka. Dengan ikut serta menjaga kelestarian tradisi ini, kita sedang membantu melindungi identitas budaya Indonesia yang sangat beragam dan kaya akan nilai-nilai luhur. Semoga keanggunan Rimpu terus terpancar dan menjadi simbol kecantikan perempuan Indonesia yang tetap memegang teguh ajaran budaya serta nilai-nilai tradisional dalam setiap langkah kehidupannya di masa depan yang terus berubah ini.
