Hubungan antara aparat penegak hukum dan masyarakat merupakan kunci utama dalam terciptanya stabilitas keamanan di suatu daerah. Di wilayah Nusa Tenggara Barat, sebuah inisiatif unik terus dijalankan untuk memastikan komunikasi tersebut tidak pernah terputus. Melalui program Safari Jumat, jajaran kepolisian tidak hanya menjalankan kewajiban ibadah, tetapi juga memanfaatkannya sebagai jembatan komunikasi langsung dengan seluruh lapisan elemen masyarakat. Kegiatan ini menjadi ajang tatap muka yang paling efektif karena dilakukan di lingkungan yang sakral dan penuh dengan nuansa kekeluargaan, sehingga pesan-pesan keamanan dapat tersampaikan dengan lebih lembut dan diterima dengan baik oleh jamaah.
Konsep dari kegiatan ini selaras dengan semangat Presisi yang diusung oleh institusi kepolisian secara nasional, yakni prediktif, responsibilitas, dan transparansi berkeadilan. Dengan mendatangi masjid-masjid yang berbeda setiap pekannya, pimpinan dan anggota kepolisian dapat memetakan potensi kerawanan sosial di setiap desa secara lebih dini. Dalam sesi setelah ibadah, polisi biasanya diberikan waktu untuk menyampaikan imbauan kamtibmas, mulai dari pencegahan penyalahgunaan narkoba hingga edukasi mengenai tertib lalu lintas. Pendekatan ini jauh lebih persuasif dibandingkan dengan sekadar memasang baliho atau memberikan selebaran di jalan raya, karena terjadi dialog dua arah yang hangat antara petugas dan warga.
Strategi yang dijalankan oleh Polres Bima ini juga terbukti ampuh dalam meredam isu-isu hoaks yang sering kali memicu konflik horizontal. Saat berkumpul bersama tokoh agama dan tokoh pemuda setempat, pihak kepolisian memberikan klarifikasi langsung mengenai berbagai fenomena sosial yang sedang berkembang. Hal ini menciptakan rasa aman dan kepastian hukum di tengah masyarakat. Kehadiran polisi di tengah-tengah jamaah menunjukkan bahwa negara hadir untuk melindungi, bukan untuk menakut-nakuti. Dengan cara ini, hambatan psikologis yang sering kali membuat warga segan melapor kepada polisi perlahan-lahan mulai terkikis, berganti dengan rasa percaya dan dukungan penuh terhadap kinerja aparat.
Selain itu, momen ini menjadi sarana bagi polisi untuk menjadi lebih Dekat dengan Warga melalui aksi nyata di luar tugas operasional. Sering kali, dalam rangkaian kegiatan ini, pihak kepolisian juga menyalurkan bantuan sosial bagi anak yatim atau kaum dhuafa di sekitar masjid yang dikunjungi. Tindakan nyata ini memberikan dampak emosional yang mendalam bagi masyarakat. Polisi tidak lagi dilihat sebagai sosok yang hanya mengejar pelaku kejahatan, tetapi juga sebagai bagian dari solusi permasalahan sosial di daerah. Keterlibatan aktif ini memperkuat sinergi antara ulama dan umaro dalam menjaga keutuhan wilayah dari berbagai gangguan keamanan yang mungkin muncul dari dalam maupun luar.
