Indonesia adalah negara yang rawan bencana alam, mulai dari gempa bumi, banjir, hingga erupsi gunung berapi. Dalam menghadapi situasi darurat ini, kesiapsiagaan Polri memegang peranan krusial. Polisi tidak hanya hadir sebagai penjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam upaya penyelamatan dan penanganan pascabencana. Mulai dari fase prabencana hingga pascabencana, Polri bekerja sama dengan berbagai lembaga lain untuk memastikan respons yang cepat dan terkoordinasi. Dengan demikian, kehadiran mereka sangat penting untuk meminimalkan dampak buruk dan memberikan rasa aman kepada masyarakat yang terdampak.
Upaya kesiapsiagaan Polri dimulai dari fase prabencana, di mana mereka aktif berpartisipasi dalam simulasi dan pelatihan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Basarnas, dan TNI. Pada 14 Maret 2025, misalnya, digelar simulasi gempa bumi dan tsunami di kawasan pesisir Jawa Barat. Latihan ini melibatkan 150 personel dari berbagai satuan, termasuk Brigade Mobil (Brimob) dan Satuan Sabhara. Dalam simulasi tersebut, personel Polri dilatih untuk melakukan evakuasi korban, mendirikan posko pengungsian, dan mengatur lalu lintas menuju lokasi aman. Pelatihan rutin semacam ini sangat penting untuk memastikan setiap petugas siap dan sigap ketika bencana benar-benar terjadi.
Saat bencana terjadi, kesiapsiagaan Polri diuji secara nyata. Mereka menjadi tim pertama yang tiba di lokasi untuk melakukan evakuasi, membantu pencarian korban, dan mengamankan lokasi dari penjarahan. Sebagai contoh, saat terjadi banjir bandang di sebuah wilayah di Sumatra Utara pada 18 September 2024, tim gabungan Polri, yang dipimpin oleh AKBP Wawan Setiawan, berhasil mengevakuasi lebih dari 500 warga yang terjebak di rumah mereka. Dengan menggunakan perahu karet dan perlengkapan penyelamatan lainnya, para petugas bekerja tanpa henti selama 24 jam untuk memastikan semua warga selamat. Aksi cepat dan responsif ini menunjukkan betapa vitalnya peran mereka di lapangan.
Setelah bencana berlalu, peran kesiapsiagaan Polri tidak berakhir begitu saja. Mereka tetap berada di lokasi untuk membantu penanganan pascabencana, seperti mendirikan dapur umum, mendistribusikan bantuan logistik, dan menjaga keamanan di posko pengungsian. Polisi Wanita (Polwan) juga memiliki peran khusus dalam memberikan dukungan psikososial kepada korban, terutama anak-anak dan perempuan, untuk membantu mereka pulih dari trauma. Pada 27 Januari 2025, 20 personel Polwan dari Polda Jawa Tengah ditugaskan di posko pengungsian korban erupsi gunung berapi. Mereka mengadakan kegiatan bermain dan bercerita untuk menghibur anak-anak, menciptakan suasana yang lebih nyaman dan aman bagi para korban.
Secara keseluruhan, kesiapsiagaan Polri dalam menghadapi bencana adalah komitmen yang holistik, mencakup aspek fisik, teknis, dan humanis. Mereka bukan hanya penegak hukum, tetapi juga pelindung dan pengayom masyarakat di saat-saat paling sulit. Dengan terus meningkatkan kapasitas, sinergi antarlembaga, dan keterlibatan aktif di tengah masyarakat, Polri akan semakin kuat dalam menghadapi segala bentuk ancaman bencana, memastikan bahwa negara hadir untuk melindungi setiap warganya.
