Sosok yang dikenal sebagai polisi santri ini merupakan personel pilihan yang telah melalui proses pembinaan mental dan spiritual secara intensif di internal kepolisian. Keberadaan mereka menjadi jembatan komunikasi yang sangat efektif antara institusi Polri dengan tokoh agama serta masyarakat luas. Di bulan Ramadan yang penuh berkah ini, peran mereka menjadi semakin krusial dalam menciptakan suasana kamtibmas yang kondusif melalui pendekatan dakwah yang lembut. Kehadiran mereka di tengah-tengah warga bukan untuk melakukan penindakan, melainkan untuk memberikan siraman rohani yang menyejukkan hati dan mempererat tali silaturahmi antar sesama umat.
Salah satu agenda rutin yang paling dinantikan oleh warga adalah ketika para personel ini turun langsung ke lapangan untuk jadi imam dalam pelaksanaan shalat berjamaah, baik itu shalat fardhu maupun shalat tarawih. Kemampuan mereka dalam memimpin ibadah dengan bacaan yang tartil dan suara yang merdu memberikan kesan mendalam bagi para jamaah. Hal ini membuktikan bahwa profesi sebagai pelindung masyarakat tidak menghalangi seseorang untuk tetap istiqomah dalam menjalankan nilai-nilai ibadah. Kedekatan yang dibangun di atas sajadah ini menciptakan kepercayaan publik yang sangat kuat, karena masyarakat melihat Polisi Santri sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas religius mereka.
Fokus penugasan para personel religius ini sengaja diarahkan ke berbagai masjid pelosok yang sulit dijangkau oleh dai atau penceramah dari pusat kota. Di wilayah-wilayah terpencil ini, kehadiran polisi santri menjadi oase bagi masyarakat yang merindukan bimbingan agama sekaligus rasa aman. Mereka rela menempuh perjalanan jauh dengan medan yang menantang demi bisa hadir di tengah jamaah, memimpin doa, hingga memberikan khutbah yang berisi pesan-pesan perdamaian dan persatuan. Dengan cara ini, polri berhasil menyentuh aspek paling privat dan sakral dalam kehidupan masyarakat, yakni keyakinan spiritual, yang menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas keamanan wilayah.
Selain memimpin ibadah, para polisi ini juga aktif memberikan edukasi kepada anak-anak di taman pendidikan Al-Qur’an setempat. Mereka mengajarkan nilai-nilai budi pekerti luhur dan nasionalisme yang dibalut dengan pemahaman agama yang inklusif. Pendekatan ini sangat efektif dalam mencegah masuknya paham radikalisme sejak dini di wilayah perdesaan. Masyarakat Bima yang dikenal sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama merasa sangat terbantu dan bangga memiliki aparat yang tidak hanya menjaga raga mereka dari kejahatan, tetapi juga menjaga jiwa mereka dengan bimbingan rohani yang tulus dan berkelanjutan.
